Kasus Takahiro Shiraishi, Pembunuh Berantai Twitter

takahiro shiraishi

Kasus Takahiro Shiraishi, Pembunuh Berantai Twitter – Pada akhir tahun 2017 lalu, Jepang digemparkan dengan penemuan 9 mayat dengan kondisi tubuh sudah dimutilasi dan disimpan dalam freezer, di sebuah apartemen yang terletak di Zama, Jepang. Penemuan ini buntut dari penyelidikan polisi mengenai seorang wanita asal Tokyo, Aiko Tamura, yang tiba-tiba saja menghilang.

takahiro shiraishi

Ternyata Aiko Tamura yang saat itu tengah berusia 23 tahun menjadi korban pembunuhan Zama. Polisi pun terkejut saat mengetahui bahwa bukan tengah menyelidiki kasus pembunuhan tunggal, melainkan tengah menghadapi seorang pembunuh berantai dengan jumlah korban sebanyak 9 orang yang diketahui salah 1 nya berjenis kelamin pria.

Takahiro Shiraishi, pembunuh berantai, pemilik apartemen, dan terdakwa yang di saat itu berumur 27 tahun, memakai media http://www.inadesfo.org/ Twitter untuk menangkap beberapa korbannya. Shiraishi cari wanita-wanita di Twitter yang mempunyai pertanda stres dan kemauan untuk bunuh diri. Demikian diketemukan, dia langsung akan mengirim korbannya pesan yang tertulis “mari mati bersama”.

Menurut penyidikan, Shiraishi pernah bekerja sebagai perekrut di industri sex. Dia mengincar dan menjerat wanita-wanita yang dijumpainya di jalan untuk masuk sebagai karyawan sex. Perihal ini pula yang diperhitungkan jadikan Shiraishi trampil dalam memperoleh keyakinan wanita, dan manfaatkan sosial media.

Dengan modal sangkaan itu, lalu apartemen Shiraishi juga digeledah. Betul saja, polisi pada akhirnya mendapati jasad korban setiap pojok apartemen. Bahkan juga bukan hanya satu wanita saja yang dibunuh, tetapi ada jasad yang lain diketemukan pada suatu kardus dan dalam kulkas aktor.

Pihak aparatur menyangka semua korban yang dibunuh adalah mereka yang terkena stres berat. Dengan menyaksikan posting korban yang tuliskan ingin bunuh diri, lalu meresponya dengan DM, dan mengundang korban ke apartemen untuk dibunuh di saat itu juga.

Shiraishi akui jika sepanjang dia membunuh, dia sering memakai tali tambang buat mencekik korban. Tapi sangkaan polisi berbicara lain, berdasarkan penyidikan aktor sempat memerkosa korban.

Proses Hukum Kasus Pembunuhan Berantai Twitter

Beskal menuntut hukuman mati untuk Shiraishi, yang akui salah atas perlakuan membunuh dan memutilasi beberapa korbannya.

Tetapi advokat Shiraishi berbicara jika tuntutan hukuman untuk client-nya semestinya dikurangkan, mengeklaim jika korban-korbannya mempunyai kemauan untuk bunuh diri dan sudah memberi kesepakatan untuk dibunuh.

Sembilan korban Shiraishi itu terhitung tiga pelajar sekolah menengah, dengan korban yang paling muda berumur 15 tahun, dan empat wanita berumur dua beberapa puluh dan seorang pria berumur 20 tahun.

Salah satu lelaki yang terbunuh itu terjadi sesudah dia hadapi Shiraishi dan menanyakan kehadiran kekasihnya, berdasar laporan media Jepang.

Karena kasus ini juga Twitter seakan terdorong untuk membuat aturan baru yang menyatakan bahwa pengguna tidak boleh “mempromosikan atau mendorong bunuh diri atau melukai diri sendiri”.

Anor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *