Dokter Pembunuh 250 Orang, Harold Shipman

Dokter Pembunuh – Banyak surat kabar terkemuka yang memberitakan betapa mengerikannya persidangan Dr. Harold Shipman pada Oktober 1999. Shipman adalah seorang dokter yang diam-diam telah membunuh pasiennya dan menjadi salah satu pembunuh berantai paling produktif di dunia.

Harold Shipman ialah seorang dokter umum terkemuka asal negara Inggris di tahun 2000. Namun, di sisi lain ia juga memiliki sebutan yang berbeda yakni Dr. Death and the Anggel of Death. Pasalnya, di sini ia terbukti telah membunuh 15 pasien.

Bahkan aparat menduga, bahwa Harold memiliki korban lain yang tak diketahui. Setidaknya dari rekam jejak Harold, ia diyakini terlibat 250 kasus pembunuhan.
Identitas lengkap pelaku memiliki nama lengkap Harold Federick Shipman. Ia lahir pada 14 Januari 1946, di Nottingham, Inggris. Dari Situs Judi Slot Online Terbaik Dan Terpercaya kasus pembunuhan ini, lantas memicu pertanyaan untuk badan komunitas medis pada saat itu. Mengapa dan apa tanggung jawab dari pihak terkait kematian mendadak para pasien.

Ia tercatat telah membunuh ratusan pasien (jumlah pastinya tidak akan pernah diketahui) dengan opiat, tulis Michael H. Stone dalam bukunya, The Anatomy of Evil. Opiat merupakan senyawa narkotika dari turunan tanaman opium. Tabloid Inggris bahkan menjulukinya Dr. Death. Inilah kisah tentang kemunculan Dr. Death, setelah bertahun-tahun kejahatannya tidak terdeteksi

1. Latar belakang kehidupan Harold Shipman

Harold Shipman memiliki latar belakang yang normal, terutama masa kecilnya yang tampaknya tidak bermasalah. Dilansir Britannica, Shipman lahir pada 14 Januari 1946, di kota Nottingham, Inggris. Dia dilahirkan sebagai keluarga Inggris dari kelas pekerja. Ayahnya adalah seorang sopir truk. Keluarganya sangat religius, dengan keyakinan Methodisme, sebuah denominasi Kristen Protestan yang populer di Inggris.

Shipman memiliki kemampuan akademis dan prestasi atletik. Mengutip The Independent, ia sukses di High Pavement Grammar School, setelah lulus 11-Plus, merupakan seorang pemain dan atlet rugby ulung dan sangat dekat dengan ibunya, Vera. Sayangnya, Shipman juga dikenal sebagai anak yang penyendiri di sekolah.

Untuk diketahui bahwa pelaku dulunya dikenal sebagai anak yang cerdas. Ia mulai tertarik dengan dunia kedokteran, saat ia melihat ibunya menyuntikan morfin ke lenggannya untuk meredakan rasa sakit. Walau pada akhirnya, pada saat itu ibunya tetap meninggal karena menderita kanker paru-paru.

Shipman dikenal sebagai anak yang berbakti kepada ibunya, Vera. Sebelum ia beranjak dewasa, Vera didiagnosis menderita kanker paru-paru terminal.

Sepanjang perawatannya, Shipman melihat langsung efek paliatif dari obat penghilang rasa sakit yang digunakan untuk meringankan penderitaan ibunya, terutama morfin. Dikutip Biography, Vera meninggal di usia 43 tahun pada 21 Juni 1963. Shipman baru berusia 17 tahun pada saat itu.

2. Di usia yang sangat muda, Harold Shipman mulai membangun rumah tangga

St. Mary’s University mengungkapkan bahwa setelah kematian ibunya, Harold Shipman memilih untuk masuk ke sekolah kedokteran. Meskipun murid yang cerdas, Shipman gagal dalam ujian masuk pertama dan berjuang keras untuk belajar kedokteran di Leeds University sekitar dua tahun setelah kematian ibunya.

Pada tahun pertamanya di sekolah kedokteran, Shipman bertemu dan menjalin hubungan dengan Primrose Oxtoby, putri petani setempat, seperti yang dijelaskan dalam laman The Guardian. Mereka akhirnya menikah, di saat Shipman masih menjadi mahasiswa baru.

Ia memiliki empat anak setelah lulus dari sekolah kedokteran. Sementara itu, Oxtoby menjadi seorang ibu rumah tangga yang penuh kasih sayang dan istri yang mendukung karier suaminya di bidang kedokteran.

3. Harold Shipman kecanduan obat penghilang rasa sakit

Harold Shipman lulus dari Leeds University pada tahun 1970 dan memulai kariernya di kota kecil Pontefract di West Yorkshire, Inggris. Mimpinya menjadi seorang dokter terwujud pada tahun 1974. Ia bergabung dengan praktik medis di Todmorden, sebuah kota di Calder Valley, West Yorkshire.

Dilansir Irish Times, Shipman pernah dihukum pada tahun 1975 karena memalsukan resep untuk memenuhi ketergantungannya pada obat penghilang rasa sakit petidin, opioid sintetis seperti morfin. Kecanduannya semakin memburuk sehingga dokter meminta istrinya, Primrose, untuk mengawasinya.

Setelah itu Shipman mengundurkan diri dari pusat medis Todmorden dan harus mengikuti program rehabilitasi narkoba, namun pihak berwenang hanya memberinya peringatan dan denda. Sementara itu dia tetap memiliki lisensi medisnya.

4. Harold Shipman mulai dicurigai setelah menjadi dokter selama 20 tahun

Harold Shipman mengambil posisi baru di pusat medis Donnybrook di Hyde, Greater Manchester, di mana dia bekerja selama lebih dari 20 tahun. Shipman adalah dokter pekerja keras, yang dipercaya pasien dan rekan kerjanya, meskipun ia terkenal arogan di antara staf juniornya.

Di sinilah Shipman menyamar sebagai dokter yang secara diam-diam membunuh banyak pasien rentan, khususnya perempuan tua. Dengan kedok mengurangi rasa sakit, ia memberikan dosis diamorfin yang mematikan, yang membunuh pasiennya dalam hitungan menit. Sementara untuk menutupi jejaknya, Shipman menulis kematian mereka akibat kondisi kesehatan yang buruk terkait faktor usia.

Pada tahun 1985, beberapa rekannya curiga tentang kesamaan kematian pasien Shipman lainnya. Penyelidikan rahasia pun dilakukan, tetapi Shipman terbebas dari kecurigaan, karena catatannya tidak ada yang salah. Faktanya, Shipman telah mengubah banyak dokumennya agar tidak terdeteksi.

5. Kejahatan Harold Shipman terungkap

Pada tahun 1998, Harold Shipman menggunakan dosis morfin yang mematikan untuk membunuh seorang perempuan sehat berusia 81 tahun bernama Kathleen Grundy, yang menjadi korban terakhir Shipman. Mengutip laman The Guardian, Shipman diketahui mencari keuntungan dari para pasiennya.

Grundy adalah mantan walikota Hyde, Inggris dan merupakan sosok perempuan kaya raya. Dia meninggal secara mengejutkan. Putrinya, Angela Woodruff, masih tidak yakin jika ibunya meninggal meskipun Shipman memintanya untuk tidak melakukan autopsi.

Namun, Woodruff akhirnya melapor ke polisi saat mengetahui seluruh kekayaan ibunya senilai ratusan ribu pound Inggris telah diwariskan kepada Shipman. Aksi ini terungkap ketika ia ketahuan memalsukan surat wasiat.

Polisi menemukan bahwa surat itu dibuat pada mesin tik Brother yang sudah tua. Sidik jari Shipman pun ditemukan di dokumen serta surat lain yang diterima oleh pengacara.

6. Harold Shipman didakwa dan menjadi tersangka dari banyaknya pembunuhan

Setelah pemalsuan wasiat Grundy terungkap, jasad perempuan itu akhirnya diambil kembali untuk diautopsi. Ditemukanlah diamorfin tingkat tinggi di dalam tubuhnya. Shipman didakwa terkait pembunuhan dan pemalsuan surat wasiat.

Pihak berwenang mulai menyelidiki kematian pasien Shipman lainnya. Dalam beberapa bulan, semuanya menjadi jelas. Shipman akhirnya didakwa dengan pembunuhan 15 perempuan. Beberapa di antaranya telah dikremasi atas perintahnya. Dilansir laman Biography, ini merupakan cara lain dokter tersebut agar kejahatannya tidak ketahuan.

7. Ada pernyataan bahwa Shipman mungkin membunuh 250 pasiennya

Persidangan Harold Shipman dimulai pada Oktober 1999 dan berakhir pada Januari 2000. Mengutip laman The Guardian, hakim membutuhkan 33 jam dan 55 menit untuk memvonis bahwa dokter itu bersalah dari 15 tuduhan pembunuhan dan penempaan wasiat Kathleen Grundy. Ia pun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Laman Biography melaporkan bahwa Shipman terlihat angkuh di pengadilan dan berusaha menutupi kejahatannya dengan banyaknya keterangan palsu. Ia juga menimbun diamorfin di rumahnya setelah polisi melakukan penggerebekan.

Meskipun didakwa dengan hanya 15 pembunuhan, penyelidikan Shipman berikutnya memperkirakan bahwa ia mungkin telah membunuh lebih dari 218 pasiennya. Sementara perkiraan selanjutnya mengungkapkan bahwa jumlahnya mendekati 250 orang. Korban termuda diperkirakan baru berusia 4 tahun.

8. Kesetiaan istri Harold Shipman yang selalu mendukung suaminya

Selain Harold Shipman yang menjadi salah satu pembunuh berantai paling perhitungan dan berbahaya di dunia, media juga tertarik dengan sang istri, Primrose. Perilakunya dianggap sangat aneh selama persidangan.

Primrose selalu menghadiri persidangan suaminya, dan selalu melakukan kunjungan mingguan ke Penjara Wakefield. Beberapa laporan menunjukkan bahwa pasangan itu terlihat berpegangan tangan, berciuman, dan seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Primrose membingungkan kerabat korban suaminya dengan mencoba berbaur dan basa-basi saat istirahat di persidangan. Perilakunya mencerminkan penolakan patologis atas kejahatan suaminya dan seolah suaminya tidak bersalah.

9. Harold Shipman sudah merencanakan bunuh diri agar istrinya mendapatkan dana pensiunan

Harold Shipman ditemukan gantung diri di selnya di penjara Wakefield, West Yorkshire pada pukul 6.20 pagi pada 13 Januari 2004. Itu adalah malam ulang tahunnya yang ke-58 tahun.

Dalam laporan terpisah, The Independent mengungkapkan bahwa Shipman sudah mengatur bunuh diri tersebut agar istrinya dapat mencairkan dana pensiun sebesar 100 ribu poundsterling atau sekitar Rp1,9 miliar. Menurut catatan rahasia penjara, uang itu ditambah dengan 10 ribu poundsterling atau sekitar Rp198 juta setahun sesudahnya.

10. Harold Shipman kecanduan membunuh pasiennya

Kematian Harold Shipman meninggalkan rasa sakit dan pertanyaan besar bagi keluarga korban, karena mereka tidak akan pernah tahu penjelasan lengkap tentang motif yang mendorongnya untuk membunuh banyak orang-orang rentan yang telah mempercayakan diri mereka kepadanya.

Anggota penuntut, komentator, dan kriminolog memiliki teori mengapa Shipman membunuh lebih dari 200 orang. Mereka berpendapat bahwa ia ingin membalas kematian ibunya. Ada juga yang berpendapat bahwa ia menyuntik perempuan tua dengan morfin sebagai cara untuk membuktikan bahwa dia bisa mengambil nyawa orang lain serta menyelamatkannya.

Dalam analisis kriminalitas Shipman, ia dianggap sebagai pembunuh berantai “necrophiliac“. Kepada The Irish Times, Dame Janet Smith, yang memimpin penyelidikan kasus ini mengungkapkan bahwa Shipman kecanduan untuk mengakhiri hidup pasiennya.

Kasus Shipman menjadi ujian bagi kalangan dokter dan tenaga medis. Gara-gara yang dilakukannya, kepercayaan masyarakat terhadap mereka menurun. Padahal ini merupakan kasus langka sehingga kita tidak bisa menyalahkan satu profesi atas tindakan satu orang

Anor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *